OKU Timur, Kiri Media — UPTD Puskesmas Belitang II akan menggelar pemeriksaan HPV DNA secara gratis pada Sabtu, 13 Desember 2025, sebagai bagian dari upaya deteksi dini kanker serviks di wilayah OKU Timur. Layanan ini dibuka bagi perempuan yang sudah menikah, terutama pada kelompok usia 30–69 tahun, serta perempuan di bawah 30 tahun yang telah menikah.
HPV DNA merupakan metode skrining untuk mendeteksi infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi yang berpotensi berkembang menjadi kanker serviks. Pemeriksaan ini disebut mampu mengidentifikasi risiko lebih akurat dibandingkan metode konvensional.
Kepala UPTD Puskesmas Belitang II, Diana Oktarina, SKM menyampaikan bahwa deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan angka kejadian kanker serviks.
“Banyak perempuan tidak menyadari bahwa kanker serviks sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Karena itu, deteksi dini lewat HPV DNA sangat penting. Pemeriksaan ini gratis agar tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menunda,” ujarnya.
Diana menambahkan, peserta cukup membawa fotokopi KTP, KK, dan kartu BPJS, serta memastikan tidak sedang haid, tidak sedang hamil, dan tidak melakukan hubungan seksual 24 jam sebelum pemeriksaan.
“Kami ingin memastikan perempuan di Belitang II mendapatkan akses pemeriksaan terbaik. Syaratnya sederhana, dan seluruh prosedurnya kami pastikan aman,” kata Diana.
Selain membuka layanan pemeriksaan HPV DNA, puskesmas juga terus memberikan edukasi pencegahan infeksi menular, termasuk pentingnya tes HIV rutin, pola hidup sehat, serta imbauan untuk menjauhi narkoba.
“Pencegahan harus dilakukan dari berbagai sisi. HPV, HIV, dan penyakit menular lainnya berkaitan dengan perilaku. Karena itu kami selalu mengingatkan masyarakat untuk hidup sehat dan menghindari perilaku berisiko,” kata Diana.
Puskesmas Belitang II menargetkan peningkatan cakupan skrining sebagai langkah mengurangi risiko kanker serviks di tingkat lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan fasilitas kesehatan terhadap program nasional pencegahan kanker pada perempuan.
Redaksi

Discussion about this post