OKU Timur, Kiri Media – Ada acara pelantikan di Aula Bina Praja I Setda OKU Timur, Senin, 24 November 2025. Dari luar mungkin terlihat seperti acara pemerintahan biasa, para pejabat datang, dipanggil satu per satu, foto, tepuk tangan, pulang. Tapi ini Dekranasda, saudara-saudara. Lembaga yang tugasnya menjaga hal-hal yang sering dianggap remeh: kain, batok kelapa, anyaman, warisan budaya, dan martabat daerah. Hal-hal yang justru bisa menyelamatkan ekonomi ketika dunia sedang limbung.
Para pejabat hadir lengkap. Bupati Ir. H. Lanosin duduk di kursi depan sebagai pembina, ditemani Pj. Sekda H. Rusman dan Ketua Dekranasda dr. Sheila Noberta. Di belakang mereka ada para kepala OPD, staf ahli, sampai asisten. Semua seperti menandakan bahwa kerajinan bukan lagi urusan pameran bazar, tapi kebijakan negara.
Dan di sinilah muncul kalimat membuka yang seharusnya dicetak tebal di dinding kantor, “Kerajinan Kabupaten OKUT sudah skala nasional, ada warisan tak benda yang harus kita jaga dan kita harus kembangkan, ini bertujuan merupakan salah satu cara untuk mensejahterakan masyarakat.”
Warisan tak benda. Kalimat yang sering terdengar abstrak, tapi di sini artinya bisa sangat konkret, batok kelapa, anyaman, hasil tangan para ibu di rumah, bukan NFT.
Bupati melanjutkan dengan sesuatu yang jarang terdengar dari pejabat daerah, sabut kelapa.
“Banyak hal yang harus dieksplore di Bumi Sebiduk Sehaluan seperti sabut kelapa, ini dicari sumbernya, kalau bisa diteliti jeraminya agar dapat menjadi bahan bakar.”
Titipan keilmuan semacam ini biasanya muncul dari seminar kampus atau proposal mahasiswa teknik. Di sini, datang dari seorang bupati yang tampaknya betul-betul tahu satu hal: bahan baku kita banyak, masa kesejahteraan masih menunggu.
Dan akhirnya, kalimat yang terasa seperti menegur semua panitia acara, “Pelantikan bukan sekedar seromoni tapi ini bukti bagaimana kita menunjukkan untuk mempertahan kan jati diri agar OKU Timur lebih maju lagi.”
Di sisi lain, Ketua Dekranasda Sheila Noberta datang dengan bahasa yang lebih panjang dan lebih ideologis. Tidak sekadar pidato, lebih seperti manifesto budaya,
“Terimakasih atas dedikasi dan kontribusi pengurus Dekranasda periode sebelumnya dan selamat kepada pengurus baru… kita ingin Dekranasda dapat berdampak nyata bagi masyarakat; Pelantikan ini bukan seremonial saja… kita siap untuk bekerja, berkarya dan berkolaborasi…”
Di sinilah menariknya. Ketua Dekranasda tidak bicara soal batok kelapa dulu. Ia bicara soal eksistensi,
“Jika tidak melalui Dekranasda, OKU Timur tidak akan terlihat eksistensinya. Eksistensi ini terlihat ketika kita menggaungkan budaya kita di dunia luar.”
Eksistensi. Kata yang biasanya muncul dalam buku filsafat atau IG-nya influencer meditasi. Tapi di sini, eksistensi berarti satu hal: kain Angkinan.
Angkinan dulu dianggap milik Palembang. Hari ini sudah manggung di Kriya Nusantara.
“Tahun 2023 Kain Bidak Gala Nampuh telah mendapatkan sertifikat HKI dan kain angkinan mendapat sertifikat 4 motif.”
Sertifikat HKI itu seperti jati diri formal: “Hei, ini punya kami.” Bukan sekadar motif cantik yang bisa dijiplak vendor souvenir bandara.
Yang paling jujur dalam pidato Sheila Ketakutannya. “Kita punya daerah di Gunung Batu yang 80% penghuninya adalah penenun songket, ini harus dilestarikan, saya takut kedepannya jika tidak ada upaya dalam pemberian pelatihan maka akan punah.”
Ketua Dekranasda takut. Bukan soal kalah lomba, tapi punahnya para penenun profesi yang umurnya jauh lebih tua dari semua jabatan OPD.
Lalu ia memberi ultimatum halus, “Saya mendorong OPD terkait untuk segera membuat perlindungan, didaftarkan untuk kekayaan intelektualnya, agar tidak diambil daerah lain.”
Kalimat ini adalah versi lembut dari “kalau hilang, kalian tahu siapa yang salah.”
Terakhir, seperti semua pidato yang berusaha menutup dengan nada puitik, “Mengajak bersama untuk terus menggali potensi lokal yang ada, menggunakan bahan baku alam secara bijak, memberikan kesempatan belajar untuk mendesain secara modern tanpa melupakan identitas kebudayaan kita, karena kearifan lokal merupakan kekuatan yang besar yang kita miliki.”
Panjang. Tapi intinya sederhana, jangan jadi keren tapi lupa jadi diri sendiri.
Pelantikan hari itu sah, lengkap dengan SK Dekranasda Provinsi Sumsel Nomor: 017/DEKRAN.SS/SK/XI/2025. Ketua melantik, Bupati mendampingi, Sekda menyaksikan, rapat dibuka.
Selebihnya, tinggal satu pertanyaan yang tidak sempat muncul di podium, Jika batok kelapa saja bisa punya masa depan, masa manusia yang memegangnya tidak bisa?
Redaksi

Discussion about this post