OKU Timur, Kiri Media – Perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur ke-22 kembali ditandai dengan deretan papan bunga yang memadati ruas jalan utama didepan kantor DPRD. Ucapan selamat datang dari pejabat, partai politik, organisasi, hingga pengusaha. Nama pengirim terpampang mencolok, seolah berlomba menunjukkan kedekatan dengan kkekuasaan
Namun di balik kemeriahan simbolik itu, sebagian warga justru menyimpan tanda tanya. “Setiap tahun begini terus. Papan bunganya banyak, tapi jalan didesa kami masih rusak,” kata Andi, warga Kecamatan Belitang, Minggu, (18/1/2025).
Bagi Andi, HUT daerah seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar seremoni. Ia menilai perayaan lebih sering menonjolkan simbol dukungan daripada mendengar kebutuhan warga. “Kalau memang mau merayakan, ya tunjukkan hasil kerjanya. Bukan cuma ucapan selamat,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan Siti, ibu rumah tangga di Martapura. Menurut dia, papan bunga tidak memberi dampak langsung bagi masyarakat. “Cantik iya, tapi habis itu dibongkar. Lebih baik uangnya buat bantu warga miskin atau sekolah,” katanya.
Tradisi papan bunga memang telah lama menjadi bagian dari perayaan hari jadi daerah. Di lingkungan birokrasi dan mitra pemerintah, mengirim papan bunga kerap dianggap sebagai etika sosial. Namun bagi sebagian warga, tradisi ini justru mencerminkan jarak antara pemerintah dan rakyat.
“Yang kirim papan bunga itu kan pejabat dan orang punya uang. Rakyat cuma nonton,” kata Roni, mahasiswa asal OKU Timur. Ia menilai partisipasi publik dalam HUT daerah masih bersifat pasif. “Kami tidak pernah ditanya, apa yang sudah berubah selama 22 tahun ini.”
Pemerintah daerah dari tahun ke tahun menjelang peryaaan hari jadi Kabupaten OKU Timur, belum pernah mengimbau agar ucapan HUT dialihkan ke bentuk yang lebih bermanfaat, seperti bantuan sosial atau bibit pohon. Namun di lapangan, papan bunga tetap mendominasi ruang publik setiap peringatan hari jadi.
Di usia ke-22, OKU Timur dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah perayaan hari jadi hanya menjadi ritual tahunan penuh simbol, atau benar-benar menjadi ruang refleksi atas janji pembangunan dan kesejahteraan warga. Ketika suara warga kalah ramai dibanding papan bunga, makna perayaan pun kembali dipertanyakan.
Redaksi

Discussion about this post