Ogan Komering Ulu Timur, Kiri Media — Ada yang bilang “guru pahlawan tanpa tanda jasa.” Tapi rupanya para guru OKU Timur tidak puas hanya jadi pahlawan; mereka sekalian jadi kolektor medali, dari Platinum sampai Perunggu, di ajang internasional bernama ITECC yang berlangsung di Universitas Teknologi Malaysia. Kalau nanti ada yang nyeletuk “guru sekadar mengajar,” mereka sudah bisa jawab santai: “Eh, kami mengajar sambil ngetok-ngetok podium internasional ya.”
Yang bikin lebih gurih, para guru ini bukan mahasiswa abal-abal. Mereka adalah mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan dan Magister Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya (UNSRI), kelas khusus OKU Timur. Jadi bayangkan, pagi mengajar anak-anak yang masih bingung membedakan energi potensial dan potensi jodoh, malamnya bikin riset internasional berbasis teknologi.
Di Mana Ada Mocaf, Di Situ Ada Platinum
Inovasi yang dibawa? Bukan sekadar PowerPoint template gradient ungu bawaan Windows. Mereka membawa pembelajaran berbasis game STEAM (Sains, Teknologi, Teknik, Seni, Matematika) tentang mengubah ubi racun menjadi Mocaf alias tepung singkong yang bisa jadi solusi kemandirian pangan nasional.
Ya, inilah level “guru modern.” Bukan cuma ngajarin murid main ular tangga, tapi ngajarin murid gimana caranya bikin pangan masa depan sambil tetap bisa lulus ujian semester.
Selain itu ada media pembelajaran berbasis komik tradisional, multimedia interaktif, sampai media ajar berbasis game menggunakan bot AI. Anak-anak yang tadinya malas buka buku, besok-besok mungkin buka AI sambil berkata: “Bot, bantu saya bikin laporan biologi.” Teknologi pun menangis haru.
Perolehan Medali Bukan Cuma Juara Kelas
A. Magister Pendidikan Fisika, Kolektor Medali Platinum dan Emas yang duduk di tim ini kayaknya lahir dengan bakat memancing juri internasional. Empat guru ini pulang dengan Medali Platinum :
Tri Dharma Pratiwi, S.Pd.
Taufiq Sutanto, S.Pd.
Illiyin Ethika Anhar, S.Pd.
Ayu Tiara Arqharana, S.Pd.
Kalau teman sekelas mereka bertanya “dosennya siapa?”, mungkin jawabannya: dosennya adalah hidup.
Sementara rombongan Medali Emas diisi oleh:
Gede Mudhita, S.Pd.
Nita Arum Sari, S.Pd.
B. Magister Teknologi Pendidikan, Emas, Perak, Perunggu. Mereka yang lebih dekat dengan teknologi, juga tidak mau kalah,
Medali Emas:
Sartika, S.Pd.
Septi Violita, S.Pd.
Medali Perak:
Didik Kurniawan, S.Pd.
Anita Purnawanti, S.Pd.
Dwi Purwati, S.Pd.
Medali Perunggu:
Amri Junanto, S.Pd.
Kalau kompetisi ini diibaratkan turnamen sepak bola, OKU Timur sudah bukan peserta wildcard. Mereka ini Real Madrid-nya inovasi pendidikan.
Guru Bicara dari Mocaf sampai AI
Taufiq Sutanto, S.Pd., sang peraih Platinum, mengaku bangga.
“Inovasi kami tentang Mocaf adalah bukti bahwa sains di sekolah dapat berkontribusi langsung pada isu-isu nasional, seperti kemandirian pangan. Penghargaan ini memicu kami untuk terus berinovasi dalam pembelajaran berbasis STEAM,” ujar Taufiq.
Kalimat yang jika dibaca sambil menyeruput kopi bisa membuat Anda berpikir ulang, “Kenapa dulu saya belajar fisika cuma buat ngitung sudut lemparan bola kertas?”
Sementara Didik Kurniawan, S.Pd., peraih Perak dari Magister Teknologi Pendidikan, mengingatkan bahwa teknologi adalah teman, bukan musuh.
“Kami berharap apa yang kami raih bisa menginspirasi rekan-rekan guru lain. Lewat program magister ini, kami mendapat bekal untuk membawa metode pengajaran yang lebih modern, seperti pemanfaatan game dan AI, ke sekolah-sekolah di OKU Timur,” tutur Didik.
Dengan kata lain, siapa bilang guru nggak bisa nge-game? Mereka tidak hanya main, mereka bikin gamenya.
Dinas Pendidikan : ketika bangga bukan sekadar status WhatsApp
Kepala Dinas Pendidikan OKU Timur, Wakimin, S.Pd., M.M., langsung ikut merayakan.
“Rasa bangga tiada hingga kami rasakan atas raihan prestasi internasional ini. Ini adalah bukti nyata bahwa guru-guru di OKU Timur memiliki kompetensi yang mumpuni dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Wakimin.
Kalau saja bisa, kalimat itu mungkin dilanjutkan dengan, “Dan silakan musuh-musuh pendidikan merapat.”
Ia juga memberikan ucapan terima kasih kepada Universitas Sriwijaya yang telah membuka kelas khusus. Sebuah upaya yang memungkinkan guru-guru ini kuliah S2 tanpa harus mengucapkan kalimat traumatis: “Maaf anak-anak, ibu cuti dulu.”
Tak lupa, Wakimin menyebut peran Bupati OKU Timur, Lanosin, S.T., M.M., yang memberikan akses kebijakan pendidikan lanjutan S2. Hasilnya? Prestasi mendunia plus teknologi yang siap masuk ruang kelas. Rasanya seperti investasi yang akhirnya beranak-pinak lebih cepat daripada algoritma TikTok.
Guru-guru OKU Timur ini bukan sekadar mengajar; mereka adalah bukti bahwa pendidikan bisa naik level, bukan cuma jadi bahan pidato. Di saat banyak daerah masih ribut soal seragam atau jam tambahan, OKU Timur membuktikan, inovasi itu bukan rencana kerja, itu medali.
Redaksi

Discussion about this post