OKU Timur, Kiri Media – Kalau Hari Bhakti PUPR punya bentuk fisik, ia bukan baliho raksasa atau video studio. Ia lebih mirip suara batu kerikil yang akhirnya tidak lagi memantul ke kolong mobil warga. Di Kabupaten OKU Timur, itu artinya aspal yang dalam beberapa tahun terakhir mulai menutup jarak, bukan sekadar menutup lubang.
Data dingin yang tidak bisa berbohong, dalam rentang tiga tahun terakhir, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) telah membangun atau memperbaiki jalan kabupaten hingga lebih dari 700 kilometer, dan mayoritas sekitar 79 persen kini dalam kondisi baik. Ini bukan angka kecil. Jalan kabupaten totalnya kurang dari seribu kilometer. Artinya, sebagian besar desa kini punya akses yang manusiawi. Jembatan pun serupa, dari lebih dari seratus unit, sekitar 120 sudah dalam status layak. Untuk daerah yang bergantung pada mobilitas hasil pertanian dan akses pasar, ini seperti upgrade sistem organ tubuh,peredaran darah ekonominya kini lebih lancar.
Tapi mari jujur, pembangunan selalu punya dua sisi. Sisi papan informasi proyek yang gagah, dan sisi warga yang masih harus naik ojek sawah karena genangan air menolak pindah dari tengah jalan. Infrastruktur kita kadang seperti drama sinetron, tokoh utama (jalan) digarap serius, tapi karakter pendukung (drainase, saluran air, dan irigasi) dibiarkan nasibnya mengikuti alur alam.
Kabupaten OKU Timur adalah kabupaten agraris. Petani di sini tidak butuh jalan sekadar untuk terlihat “mewah”, mereka butuh jalan untuk memperpendek waktu pergerakan hasil tani, untuk menghemat biaya angkut, untuk mengurangi kehilangan gabah di perjalanan. Tapi mereka juga butuh air. Irigasi yang mengalir rapi lebih penting dari pita peresmian. Bendung kecil, embung, rehabilitasi saluran, semua ini jarang masuk headline karena tidak instagrammable. Padahal di sanalah stabilitas ekonomi petani digantungkan.
Ambil contoh sederhana. Jalan poros yang baru diaspal itu membuat truk gabah datang tanpa drama. Tapi saluran irigasi yang sempit membuat sawah sebelah masih mengalami kekurangan debit air di musim kemarau. Hasil panen turun, harga jual tidak menolong, lalu warga berkata: “jalan bagus ini ya untuk lewat saja, bukan untuk hidup.” Bukan karena pembangunan salah, tapi karena puzzle-nya belum lengkap.
Dari sudut pandang kebijakan, PUPR ini sebetulnya bukan sekadar urusan “bangunan fisik”. Ia adalah urusan keadilan ruang. Jalan yang bagus bukan hanya mempermudah orang tajir membawa pickup, tapi membuka peluang bagi anak sekolah di desa agar tidak merasa perjalanan ke SMA itu selevel pendakian Everest. Jembatan yang kuat bukan sekadar estetika, tapi jaminan bahwa ibu hamil bisa sampai ke puskesmas tanpa berjudi dengan arus sungai. Infrastruktur itu, kata para akademisi, “mengalirkan kesejahteraan secara pasif.” Tapi di lapangan, efeknya sangat aktif, membuat warga diam-diam berkata, “akhirnya.”
Namun, PUPR selalu punya musuh permanen, cuaca dan perawatan. Jalan mulus hari ini bisa berubah menjadi sejarah geologi baru setelah tiga musim hujan. Di sini lah ujian Dinas PUTR sebenarnya dimulai. Kalau membangun itu seperti upacara pembukaan, maka memelihara adalah shalat lima waktu, rutin, membumi, tidak ada kamera, tapi wajib. Infrastruktur yang tak dipelihara adalah janji yang basi.
Kita harus bicara soal transparansi. Masyarakat tidak meminta membaca RKA setebal skripsi. Yang mereka butuhkan sederhana, daftar proyek, lokasi, nilai pengerjaan, nama kontraktor, progres fisik, tanggal selesai. Satu halaman PDF pun sudah cukup. Ketika informasi terfragmentasi, sebagian di media, sebagian di portal pengadaan, sebagian di ruang rapat rasa curiga tumbuh seperti rumput liar. Infrastruktur adalah urusan publik, bukan arsip dosen pembimbing.
Bahkan kritik pun bukan selalu niat buruk. Kadang warga hanya ingin tahu, mengapa jalan A cepat beres, sedangkan jalan B seperti film seri yang belum menemukan ending? Mengapa jembatan C megah, sedangkan saluran air di sampingnya seperti got yang sedang cuti permanen? Dinas mungkin punya semua jawabannya, tapi kalau tidak disampaikan, yang muncul bukan pengertian, tapi gosip.
Hari Bhakti PUPR adalah momen refleksi. Bukan hanya mengucap terima kasih pada para insinyur dan pekerja proyek, tetapi juga bertanya, sejauh apa pembangunan benar-benar mengubah hidup warga OKU Timur? Apakah 700 kilometer jalan itu mengurangi biaya distribusi pertanian? Apakah 120 jembatan layak itu mengurangi kecelakaan dan isolasi desa? Apakah drainase baru membuat pasar rakyat tidak lagi banjir saat hujan pertama turun? Di sinilah makna Bhakti diuji, bukan pada podium, tapi pada aspal yang dilalui.
Agar pembangunan tidak hanya jadi angka di infografis, ada tiga langkah sederhana :
Pertama, dashboard publik. Rilis rutin daftar proyek, progres, dan status. Tidak perlu mewah, spreadsheets pun cukup. Publik bukan ingin membully, mereka ingin diajak merasa memiliki.
Kedua, pemeliharaan sebagai prioritas. Jangan menunggu kerusakan meluas untuk kemudian “diperbaiki besar-besaran”. Pemeliharaan kecil tapi rutin jauh lebih murah daripada rehabilitasi besar yang datang terlambat.
Ketiga, infrastruktur penopang produktivitas. Jalan bukan satu-satunya jalan. Irigasi, retensi air, embung, jaringan sanitasi, semua ini adalah “infrastruktur sunyi” yang tidak akan viral, tapi berdampak langsung pada pendapatan petani, kesehatan warga, dan stabilitas desa.
Pembangunan yang baik bukan yang bikin pejabat bangga, tapi yang bikin warga merasa hidupnya lebih ringan. Kadang PUPR dihadapkan pada dilema politik, membangun apa yang terlihat atau apa yang diperlukan. Jalan asfalt hitam itu memikat kamera, tapi air jernih di sawah yang mengalir konsisten jauh lebih menolong rakyat.
Maka, jika hari ini kita merayakan Hari Bhakti PUPR, mari rayakan bukan dengan wacana, tapi dengan kejujuran, perjalanan OKU Timur sudah jauh lebih baik dari tiga tahun lalu ya. Tapi jalannya masih panjang. Infrastruktur bukan proyek satu kali tender, ia maraton yang harus diawasi, dipelihara, dihitung, dan dipertanggungjawabkan. Pembangunan sejati bukan soal menutup lubang, tapi membuka kesempatan.
Di titik itu, Bhakti baru benar-benar hidup.
Redaksi

Discussion about this post