OKU Timur, Kiri Media – Setiap banjir datang, satu hal selalu konsisten, airnya cepat naik, informasinya lambat turun. Warga sudah sibuk menyelamatkan motor, ayam, dan dokumen. Media sosial sudah penuh video. Grup WhatsApp sudah berubah jadi pusat komando dadakan. Sementara yang ditunggu-tunggu, kabar resmi masih dalam tahap “menyusun”.
BPBD tentu bekerja. Tapi di zaman serba daring, kerja tanpa komunikasi itu seperti evakuasi tanpa peta, niatnya baik, arahnya bikin bingung.
Ketika Negara Kalah Cepat dari Status WA
Tanpa media center, publik hanya punya satu sumber, katanya.
Katanya air setinggi dada.
Katanya satu desa tenggelam.
Katanya sungai jebol.
Benar atau tidak, informasi itu tetap menyebar. Dan ketika BPBD akhirnya bicara, hoaks sudah lebih dulu jadi kebenaran alternatif.
Ada anggapan media center itu urusan pencitraan. Padahal justru sebaliknya. Yang berbahaya itu bukan terlalu banyak bicara, tapi terlalu lama diam. Media center bencana seharusnya sederhana, update rutin, satu suara resmi, data jelas, peta terdampak,dan nomor yang bisa dihubungi. Tidak perlu jargon. Tidak perlu seremoni. Cukup konsisten.
Banjir tidak menunggu konferensi pers.
Air tidak peduli naskah rilis belum rapi.
Kalau BPBD baru aktif setelah video warga tembus ribuan tayangan, itu artinya pemerintah daerah sedang tertinggal satu langkah oleh warganya sendiri.
Banjir mungkin soal hujan dan sungai.
Tapi kekacauan informasi itu murni soal tata kelola.
Kalau banjir sudah berulang tapi komunikasi masih darurat, mungkin yang perlu dibenahi bukan cuma drainase, melainkan cara negara berbicara di saat genting.
Karena di tengah bencana, informasi yang terlambat bisa sama berbahayanya dengan air yang naik.
Redaksi

Discussion about this post